Kabar kurang mengenakkan datang dari produsen terbesar dunia, Toyota. Salah satu pemasoknya, Chuo Spring Co di Toyota City, Jepang, mengalami ledakan yang mengganggu rantai pasokan.
Menurut laporan Automotive News yang ditulis oleh Motor1, Senin, 10 Maret, insiden naas ini menewaskan satu pekerja dan melukai dua pekerja lainnya.
Hal ini mengganggu aktivitas produksi pemasok dan menciptakan efek berantai pada industri lokal, salah satunya memaksa Toyota menghentikan produksi model RAV4.
Toyota memutuskan untuk menghentikan produksi kedua pabriknya dan menutup tiga jalur produksi untuk shift pertama hari ini, karena produsen mobil akan meninjau insiden tersebut.
Tak hanya berdampak pada model RAV4, insiden ini juga berimbas pada produksi SUV lain seperti Harrier dan Venza untuk pasar Asia. Sayangnya, Toyota belum mengungkap berapa lama penghentian produksi ini akan berlangsung.
Menurut laporan tersebut, penghentian produksi akan berdampak pada penjualan RAV4 di salah satu pasar terbesar Toyota, yakni Amerika Serikat (AS). Terlebih, pabrikan tersebut telah mengekspor sekitar 21 persen dari total RAV4 ke negara tersebut tahun lalu.
Namun, perusahaan mengatakan kepada publikasi bahwa masih terlalu dini untuk mengetahui apakah penutupan akan memengaruhi ekspor ke AS.
Ini bukan pertama kalinya terjadi insiden yang melibatkan produksi mobil Toyota. Sebelumnya pada Oktober 2023, sebuah ledakan menyebabkan produsen menutup 8 pabrik dan 13 jalur produksi di negeri Sakura yang berlangsung selama 10 hari.
Beberapa bulan sebelumnya, pembuat mobil harus menghentikan operasi di semua 14 pabrik perakitannya di semua wilayah.
Versi bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Arab, dan Prancis dibuat secara otomatis oleh AI. Jadi mungkin masih ada ketidakakuratan dalam penerjemahan, mohon selalu gunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama kami. (sistem didukung oleh DigitalSiber.id)